Alumni SMPN 4 Purworejo Gelar Reuni Akbar
KORANJURI.COM – Ribuan alumni SMP N 4 Purworejo dari berbagai angkatan, yang tergabung dalam Alpega Alspesnka, hadir dalam Reuni Akbar, di Lustrum ke 12 SMP N 4 Purworejo, Minggu (5/8), dengan tema ‘Bertemu Kembali dalam Satu Misi dan Beraksi di Reuni Akbar’.
Resepsi yang berlangsung di halaman SMP N 4 Purworejo tersebut, merupakan puncak dari serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, dalam rangka Lustrum ke 12 SMP N 4 Purworejo.
Resepsi diawali dengan memperkenalkan Putri Berlian, yang merupakan ikon dari Lustrum ke 12 SMP N 4 Purworejo. Putri Berlian ini, merupakan hasil lomba fashion show pemilihan Putri Berlian beberapa waktu sebelumnya.
“Kegiatan ini baru pertama kali dilakukan setelah puluhan tahun. Reuni Akbar ini merupakan puncak dari sembilan kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya dalam rangka Lustrum ke 12,” ujar Yosiyanti Wahyuningtyas, Kepala Sekolah SMP N 4 Purworejo, saat memberikan sambutannya.
Kesembilan kegiatan tersebut, kata Yosiyanti, diawali dengan try out ujian SD (4/3), bazar/pasar murah (9/6), lomba nyanyi berlian, lomba tembang kenangan (28/7), lomba pemilihan Putri Berlian (29/7), malam tirakatan (31/7), pelatihan jurnalistik (2/8), jalan sehat unik (4/8), dan diakhiri dengan resepsi reuni akbar (5/8).
Yosiyanti menjelaskan tentang pencapaian prestasi sekolah di tahun 2018, antara lain, SMP N 4 Purworejo meraih posisi keempat dari 103 SMP/MTs Negeri swasta se Kabupaten Purworejo. di UNBK 2018 dengan jumlah murid terbanyak, dalam non akademik meraih 83 piala dari berbagai kejuaraan.
Juga, kata Yosiyanti, Enang Kuncoro, guru SMP N 4 Purworejo menjadi juara satu guru berprestasi tingkat kabupaten, dan Murni Nugraheni, meraih juara dua dalam pengelolaan arsip tingkat kabupaten. Dan bulan September, sekolah maju dalam penilaian Adiwiyata tingkat nasional.
“SMP N 4 Purworejo juga menjadi pelopor dalam pembelajaran berbasis IT,” ungkap Yosiyanti.
Disampaikan juga, ada beberapa sarana dan prasarana sekolah yang belum terpenuhi, antara lain, belum adanya aula pertemuan yang permanen, dan penunjang ekstra kurikuler drum band yang sudah tidak memenuhi syarat.
Yosiyanti berharap, momentum 60 tahun tersebut dijadikan sebagai titik awal jalinan silaturahmi antar alumni, dan juga antara alumni dengan sekolah. Jika pemerintah belum mampu memenuhi kebutuhan sekolah, Yosiyanti berharap para alumni bisa berpartisipasi di dalamnya.
“Tidak harus dalam ujud materi, tapi akses kemudahan, demi kemajuan sekolah. Saya lihat dari para alumni, ada potensi untuk itu,” ujar Yosiyanti.
Yosiyanti berharap, meski kepala sekolah dan guru bisa berganti, namun jalinan silaturahmi harus tetap berjalan, dengan kegiatan-kegiatan seperti yang telah dilaksanakan saat ini.
Sementara itu, Prabantoro, selaku Ketua Panitia Reuni Akbar mengungkapkan, tema Bertemu Kembali dalam Satu Misi dan Beraksi mempunyai makna, bahwa para alumni berkumpul kembali, dengan misi untuk memajukan sekolah, dan mendukung kebijakan sekolah, untuk meningkatkan gradasi kwalitas kemanusiaan di sekolah.
“Dalam kesempatan kali ini, dari para alumni memberikan bantuan berupa peralatan drum band dan sound sistem untuk sekolah,” jelas Prabantoro.
Kedepan, kata Prabantoro, kegiatan-kegiatan tersebut akan tetap dilaksanakan, sehingga jalinan silaturahmi antar alumni, dan antara alumni dengan sekolah tetap terjaga. (Jon)
1,881 total views


Limbah merupakan hasil buangan dari aktifitas atau proses produksi dalam kegiatan sehari-hari yang pada konsentrasi tertentu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan apabila tidak ditangani dengan tepat. Pada dasarnya limbah dibagi atas limbah organik dan limbah anorganik. Limbah organik adalah limbah yang dapat membusuk, sedangkan limbah anorganik merupakan limbah yang tidak dapat membusuk. Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai limbah anorganik. Contoh dari limbah anorganik diantaranya plastik, kayu, botol, kaca, batrei dan lain-lain. Plastik merupakan nama yang digunakan untuk mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan dapat diproses dalam bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya.Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).